5 Industri Bisnis Di Indonesia Yang Menuju Kebangkrutan
“Untuk bertahan, sebuah bisnis harus bisa mengikuti tren”, begitulah yang sering disampaikan para motivator bisnis. Anda boleh sepakat boleh tidak, tapi kenyataannya memanglah demikan. Sudah banyak industri bisnis yang gulung tikar alasannya yaitu tidak bisa mengikuti arus jaman.
Anda mungkin sudah dengar perihal Seven Eleven, salah satu supermarket absurd terbesar di dunia yang menutup cabangnya di Indonesia ? Atau mungkin sempat dengar informasi mengenai sepinya pembeli di pasar Glodok?
Miris sekali memang, alasannya yaitu Seven Eleven yaitu merk raksasa di industri retail yang mempunyai cabang di banyak sekali belahan dunia. Dan siapa yang tidak kenal dengan pasar Glodok, dulu sebelum orang mengenal istilah belanja online, kalau mau beli barang elektronik, ya larinya ke Glodok.
Sayangnya, kondisi menyerupai yang dialami Seven Eleven dan Glodok ini sudah dialami semenjak beberapa tahun belakangan ini alasannya yaitu menjamurnya toko online dan semakin meningkatnya pertumbuhan belanja online di masyarakat, disisi lain, penjual juga diberatkan dengan uang sewa toko.
Sekarang hal tersebut semakin menjadi kenyataan, demam isu sepinya transaksi eksklusif antara pembeli dan penjual (offline) yang akhir-akhir ini menyerupai di pasar Glodok diramalkan akan terus berlanjut bahkan besar kemungkinan akan semakin menggerus para pebisnis offline.
Ke depan semua akan mengarah ke sistem e-Commerce, yaitu peralihan sistem pembelian dari proses tradisional (offline) dimana pembeli bertemu dengan penjual di suatu tempat (seperti toko), akan berubah ke sistem pembelian secara online, dimana pembeli tidak lagi harus bertemu bahkan berinteraksi dengan penjual.
Perubahan demam isu ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi telah terjadi juga di belahan dunia lain dan akan terus terjadi mengikuti sikap insan modern yang menginginkan sesuatu yang simpel, fleksibel dan efisien. Akibatnya, beberapa industri dan bisnis kalau tidak mau semakin terpuruk, terpaksa atau dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan tren ini.
Dulu, pada tahun 1990-an hingga 2000-an saya yaitu pelanggan setia koran Bola. Tapi semenjak adanya susukan internet yang gampang dan murah saya berhenti berlangganan dan cukup mencari informasi dari smartphone saya.
Ada beberapa media cetak lokal di Indonesia menyerupai Sinar Harapan, Harian Bola, Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe dan beberapa koran lainnya yang terpaksa harus menutup bisnisnya alasannya yaitu tingginya biaya cetak koran dan tidak bisa bersaing dengan media online menyerupai detik.com, okezone.
Hal serupa tidak hanya terjadi di industri media cetak Indonesia tetapi juga terjadi di media cetak absurd menyerupai di Amerika, sebut saja The Washington Post dan The New York Times.
Untuk menyikapi kondisi ini, ada beberapa media cetak lokal yang mulai mengalihkan bisnisnya menuju digitalisasi menyerupai yang dilakukan Group Gramedia yang disamping tetap mengelola media cetak Harian Kompas juga telah meluncurkan channel online Kompas.com dan mendirikan saluran televisi Kompas TV
Hal ini terjadi alasannya yaitu persaingan di bisnis retail ketika ini memang sangatlah ketat. Belum lagi gebrakan yang dilakukan raksasa market online Amerika, Amazon yang meluncurkan AmazonGo.
Konsep AmazonGo yang mengintegrasikan supermarket dengan aplikasi smartphone diprediksi akan menjadi tren gres dan tidak menutup kemungkinan suatu ketika akan masuk ke pasar Indonesia.
Dengan mengusung konsep “No lines, No checkout” atau “Tanpa antri, Tanpa bayar dikasir”, pembeli akan semakin dimanjakan dengan segala kemudahan tanpa perlu keluar rumah sekalipun. AmazonGo diramalkan akan menjadi tantangan berat untuk brand-brand supermarket ternama menyerupai Carrefour, Hypermart dan lain-lain apabila tidak segera berbenah.
Pasar elektronik Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat pada tahun 1990-an pernah menjadi salah satu sentra perdagangan elektronik terbesar di Indonesia. Tapi semenjak 2-3 tahun ke belakang, Glodok mengalami penurunan jumlah pembeli.
Roxy Square juga mengalami hal serupa, tempat ini pernah menjadi salah satu saksi bisu menggeliatnya pasar handphone di Indonesia pada tahun 2000-an, tapi kini mulai ditinggal para penjual alasannya yaitu sepinya pembeli.
Hal serupa juga terjadi di Pasar Tanah Abang yang telah ada semenjak tahun 1735 dan menjadi salah satu sentra penjualan tekstil terbesar se-Asia Tenggara.
3 tahun belakangan ini para penjual mengalami penurunan penjualan hingga mencapai lebih dari 50% jikalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu penyebabnya yaitu berkembangnya toko online. Hampir kebanyakan pedagang yang masih bertahan alasannya yaitu mereka juga mempunyai toko online atau adanya beberapa pembeli reseller yang menjual kembali barang dagangan mereka melalui online.
Anda niscaya kenal dan mungkin pernah memakai jasa GoJek, Grab atau Uber? Ya, mereka yaitu 3 merk transportasi terbesar ketika ini di Indonesia.
Konsep ketiga merk ini memang unik, perusahaan-perusahaan ini tidak mempunyai aset transportasi menyerupai layaknya bisnis transportasi pada umumnya, mereka memperlihatkan konsep “share economy” atau “peer economy”. Dimana ketiga merk tersebut hanya bertindak layaknya sebagai operator yang memfasilitasi para pengemudi online yang menjual jasa dengan para calon penumpang.
Model bisnis ini ternyata berdampak sangat besar di masyarakat. Ada penolakan dari sebagian besar pelaku jasa transportasi offline menyerupai pengemudi taksi dan para tukang ojek pangkalan alasannya yaitu merasa lahan mereka diserobot dengan tidak fair.
Apapun itu, ke depan mau tidak mau bisnis transportasi akan mengarah ke model online alasannya yaitu terbukti mempermudah penumpang untuk memakai jasa moda transportasi pilihannya.
Banyaknya online marketplace menyerupai AirBnB dan aplikasi cek budget hotel menyerupai Airy Room disinyalir menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan pada industri ini.
Website/aplikasi yang memungkinkan pemilih rumah, villa, apartement bahkan kamar kos, sanggup menyewakan propertinya kepada orang lain yang tentunya dengan harga lebih murah dibandingkan harga hotel menjadi pertimbangan orang mulai meninggalkan hotel.
Beralih dari bisnis offline ke dunia digital atau online bukan lagi menjadi pilihan tetapi sudah menjadi keharusan alasannya yaitu sejatinya hanya ada 2 pilihan untuk Anda : Tergerus arus jaman atau menyesuaikan diri dengan tren
Sebaiknya Anda baca : 5 Alasan Mengapa Anda Harus Membuat Blog Untuk Kemajuan Bisnis Anda
Mudahnya menjalankan bisnis online menjadikan ledakan jumlah toko online di seluruh dunia.
Modal kecil, tanpa resiko kerugian, menciptakan toko online dalam beberapa menit dan peluang laba besar, menjadi beberapa alasan banyak orang untuk terjun ke bisnis online. Ayo segera beralih ke bisnis online !
Sekian sedikit ulasan mengenai beberapa industri yang terancam gulung tikar dengan adanya tren bisnis online, semoga bermanfaat.
Jika Anda punya komplemen informasi dan pertanyaan silahkan usikan melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih.
Anda mungkin sudah dengar perihal Seven Eleven, salah satu supermarket absurd terbesar di dunia yang menutup cabangnya di Indonesia ? Atau mungkin sempat dengar informasi mengenai sepinya pembeli di pasar Glodok?
Miris sekali memang, alasannya yaitu Seven Eleven yaitu merk raksasa di industri retail yang mempunyai cabang di banyak sekali belahan dunia. Dan siapa yang tidak kenal dengan pasar Glodok, dulu sebelum orang mengenal istilah belanja online, kalau mau beli barang elektronik, ya larinya ke Glodok.
Sayangnya, kondisi menyerupai yang dialami Seven Eleven dan Glodok ini sudah dialami semenjak beberapa tahun belakangan ini alasannya yaitu menjamurnya toko online dan semakin meningkatnya pertumbuhan belanja online di masyarakat, disisi lain, penjual juga diberatkan dengan uang sewa toko.
Trend bisnis ketika ini dan masa depan
Bill Gates, pendiri Microsoft pernah meramalkan tren menjamurnya bisnis online ini, dimana ia menyampaikan di masa depan semua kebutuhan orang akan terpenuhi tanpa perlu keluar rumah.Sekarang hal tersebut semakin menjadi kenyataan, demam isu sepinya transaksi eksklusif antara pembeli dan penjual (offline) yang akhir-akhir ini menyerupai di pasar Glodok diramalkan akan terus berlanjut bahkan besar kemungkinan akan semakin menggerus para pebisnis offline.
Ke depan semua akan mengarah ke sistem e-Commerce, yaitu peralihan sistem pembelian dari proses tradisional (offline) dimana pembeli bertemu dengan penjual di suatu tempat (seperti toko), akan berubah ke sistem pembelian secara online, dimana pembeli tidak lagi harus bertemu bahkan berinteraksi dengan penjual.
Perubahan demam isu ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi telah terjadi juga di belahan dunia lain dan akan terus terjadi mengikuti sikap insan modern yang menginginkan sesuatu yang simpel, fleksibel dan efisien. Akibatnya, beberapa industri dan bisnis kalau tidak mau semakin terpuruk, terpaksa atau dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan tren ini.
Industri Bisnis yang terkena E-Commerce Effect
Berikut 7 industri yang diprediksi akan terpuruk alasannya yaitu perkembangan dunia digital ketika ini :1. Media Cetak
Sekarang semua orang sanggup dengan gampang mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia dengan sangat mudah, dimanapun dan kapanpun.Dulu, pada tahun 1990-an hingga 2000-an saya yaitu pelanggan setia koran Bola. Tapi semenjak adanya susukan internet yang gampang dan murah saya berhenti berlangganan dan cukup mencari informasi dari smartphone saya.
Ada beberapa media cetak lokal di Indonesia menyerupai Sinar Harapan, Harian Bola, Koran Tempo Minggu, Jakarta Globe dan beberapa koran lainnya yang terpaksa harus menutup bisnisnya alasannya yaitu tingginya biaya cetak koran dan tidak bisa bersaing dengan media online menyerupai detik.com, okezone.
Hal serupa tidak hanya terjadi di industri media cetak Indonesia tetapi juga terjadi di media cetak absurd menyerupai di Amerika, sebut saja The Washington Post dan The New York Times.
Untuk menyikapi kondisi ini, ada beberapa media cetak lokal yang mulai mengalihkan bisnisnya menuju digitalisasi menyerupai yang dilakukan Group Gramedia yang disamping tetap mengelola media cetak Harian Kompas juga telah meluncurkan channel online Kompas.com dan mendirikan saluran televisi Kompas TV
2. Retail dan Perdagangan
Kita seakan tidak percaya, ketika mendengar gosip kebangkrutan salah satu raksasa supermarket dunia yang mengusung konsep supermarket dan coffee shop, yaitu Seven Eleven.Hal ini terjadi alasannya yaitu persaingan di bisnis retail ketika ini memang sangatlah ketat. Belum lagi gebrakan yang dilakukan raksasa market online Amerika, Amazon yang meluncurkan AmazonGo.
Konsep AmazonGo yang mengintegrasikan supermarket dengan aplikasi smartphone diprediksi akan menjadi tren gres dan tidak menutup kemungkinan suatu ketika akan masuk ke pasar Indonesia.
Dengan mengusung konsep “No lines, No checkout” atau “Tanpa antri, Tanpa bayar dikasir”, pembeli akan semakin dimanjakan dengan segala kemudahan tanpa perlu keluar rumah sekalipun. AmazonGo diramalkan akan menjadi tantangan berat untuk brand-brand supermarket ternama menyerupai Carrefour, Hypermart dan lain-lain apabila tidak segera berbenah.
3. Pasar Tradisional
Kalau yang sekelas supermarket menyerupai Seven Eleven saja bisa bangkrut, maka tidak tidak mungkin pasar tradisional juga bisa lenyap. Contohnya saja, pasar Glodok, Roxy Square dan Tanah Abang.Pasar elektronik Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat pada tahun 1990-an pernah menjadi salah satu sentra perdagangan elektronik terbesar di Indonesia. Tapi semenjak 2-3 tahun ke belakang, Glodok mengalami penurunan jumlah pembeli.
Roxy Square juga mengalami hal serupa, tempat ini pernah menjadi salah satu saksi bisu menggeliatnya pasar handphone di Indonesia pada tahun 2000-an, tapi kini mulai ditinggal para penjual alasannya yaitu sepinya pembeli.
Hal serupa juga terjadi di Pasar Tanah Abang yang telah ada semenjak tahun 1735 dan menjadi salah satu sentra penjualan tekstil terbesar se-Asia Tenggara.
3 tahun belakangan ini para penjual mengalami penurunan penjualan hingga mencapai lebih dari 50% jikalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu penyebabnya yaitu berkembangnya toko online. Hampir kebanyakan pedagang yang masih bertahan alasannya yaitu mereka juga mempunyai toko online atau adanya beberapa pembeli reseller yang menjual kembali barang dagangan mereka melalui online.
4. Transportasi
Siapa yang tidak tahu BlueBird, raksasa penyedia jasa taksi di Indonesia. Tapi, sekarang, perlahan mulai tergerus oleh fenomena taksi online, Uber.Anda niscaya kenal dan mungkin pernah memakai jasa GoJek, Grab atau Uber? Ya, mereka yaitu 3 merk transportasi terbesar ketika ini di Indonesia.
Konsep ketiga merk ini memang unik, perusahaan-perusahaan ini tidak mempunyai aset transportasi menyerupai layaknya bisnis transportasi pada umumnya, mereka memperlihatkan konsep “share economy” atau “peer economy”. Dimana ketiga merk tersebut hanya bertindak layaknya sebagai operator yang memfasilitasi para pengemudi online yang menjual jasa dengan para calon penumpang.
Model bisnis ini ternyata berdampak sangat besar di masyarakat. Ada penolakan dari sebagian besar pelaku jasa transportasi offline menyerupai pengemudi taksi dan para tukang ojek pangkalan alasannya yaitu merasa lahan mereka diserobot dengan tidak fair.
Apapun itu, ke depan mau tidak mau bisnis transportasi akan mengarah ke model online alasannya yaitu terbukti mempermudah penumpang untuk memakai jasa moda transportasi pilihannya.
5. Hotel dan Penginapan
Hampir serupa dengan nasib transportasi offline, industri perhotelan juga makin sulit dan terus berusaha bertahan biar tetap sanggup laba dari jumlah tingkat hunian (occupancy).Banyaknya online marketplace menyerupai AirBnB dan aplikasi cek budget hotel menyerupai Airy Room disinyalir menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan pada industri ini.
Website/aplikasi yang memungkinkan pemilih rumah, villa, apartement bahkan kamar kos, sanggup menyewakan propertinya kepada orang lain yang tentunya dengan harga lebih murah dibandingkan harga hotel menjadi pertimbangan orang mulai meninggalkan hotel.
Penutup
Mungkin masih banyak jenis industri yang terancam dengan adanya tren kurun digital ini, tapi satu yang pasti....Beralih dari bisnis offline ke dunia digital atau online bukan lagi menjadi pilihan tetapi sudah menjadi keharusan alasannya yaitu sejatinya hanya ada 2 pilihan untuk Anda : Tergerus arus jaman atau menyesuaikan diri dengan tren
Sebaiknya Anda baca : 5 Alasan Mengapa Anda Harus Membuat Blog Untuk Kemajuan Bisnis Anda
Mudahnya menjalankan bisnis online menjadikan ledakan jumlah toko online di seluruh dunia.
Modal kecil, tanpa resiko kerugian, menciptakan toko online dalam beberapa menit dan peluang laba besar, menjadi beberapa alasan banyak orang untuk terjun ke bisnis online. Ayo segera beralih ke bisnis online !
Sekian sedikit ulasan mengenai beberapa industri yang terancam gulung tikar dengan adanya tren bisnis online, semoga bermanfaat.
Jika Anda punya komplemen informasi dan pertanyaan silahkan usikan melalui kolom komentar di bawah. Terima kasih.

0 Response to "5 Industri Bisnis Di Indonesia Yang Menuju Kebangkrutan"
Posting Komentar